Budaya Tiong Hua Indonesia

Budaya Tiong Hua Indonesia

daftarbudayaindo.web.id – Kontak dagang di lakukan Sejak zaman Romawi. Produk yang diperdagangkannya pun tergolong mewah yaitu sepertisutra, kain, perkakas logam, dan keramik yang dibawa dari Cina lewat dataran tinggi yangdikenal dengan nama jalur sutra ke Timur Tengah. Dengan ditemukannya jalur sutera laut dan ditambah penambahan rute pelayaran baruantara Cina dan Nusantara menunjukkansudah adanya hubungan antar keduanya, yang juga menunjukkan bahwa telah ada bangsaCina yang meninjakkan kaki ke Nusantara entah itu sekedar berdagang atau sampai tinggal dan membuat komunitas di berbagai wilayah di Nusantara. Yang jelas untuk sementara kitadapat simpulkan bahwa dalam periode di atas, di daerah pesisir pulau-pulau di Nusantarayang menjadi tempat persebaran jalur dagang Cina-Nusantara itu tersebar pula bangsa-bangsa Cina yang berhubungan dengan pribumi sekitar.

artikel Budaya Tiong Hua Indonesia

Dalam komunitas warga Tionghoa ada persepsi bahwa Muslim-Tionghoa telah kehilangan warisan budaya mereka dan bukan lagi warga Tionghoa. Namun, warga Tionghoa yang berada di Masjid Lautze berbeda pendapat.

Ali Karim yang dibesarkan sebagai warga Muslim-Tionghoa mengatakan, penting untuk membedakan tradisi dan agama.

Masjid Lautze adalah satu-satunya masjid yang Jakarta yang punya ciri-ciri khas Tiongkok. Bukannya dihiasi dengan kubah tradisional dan menara, pintu masuk masjid ini dihiasi lampion merah.

Baca Juga :

Di dalam masjid ada kaligrafi Tiongkok kuno – yang bertuliskan kata-kata “Nabi Muhammad” – tergantung di dinding-dinding, dan sajadah sholat bergambar Mekkah berwarna merah cerah.

Mudhi Astuti yang berusia 46 tahun mengatakan di masjid Lautze ia merasa seperti berada di rumah, meskipun ia bukan warga Tionghoa. Ia mengatakan sekitar seribu warga Tionghoa yang beralih ke agama Islam di masjid Lautze, kebanyakan ditolak oleh keluarga mereka.

Sebagian di antara mereka bahkan meninggalkan pasangan dan anak-anaknya dan beralih ke agama Islam. Tetapi, waktu akan menyembuhkan semua ini – ujarnya – dan kadangkala setelah beberapa tahun mereka kembali membangun hubungan baik dengan keluarga mereka.

Ini merupakan tantangan rumit bagi Cung Li – yang baru saja masuk Islam – dan masih mencoba berhubungan dengan keluarganya. Ia mengatakan khawatir keluarganya tidak bisa menerima agama barunya, tetapi sejauh ini menurutnya perayaan Tahun Baru tidak terlalu berbeda.