Budaya Upacara Peutron Aneuk di Aceh

Budaya Upacara Peutron Aneuk di Aceh

Budaya Upacara Peutron Aneuk di Aceh – Pada hari keluarga atau orang tua si bayi membawa seperangkat kebutuhan bayi, sebagai suatu kewajiban adat (menurut kemampuan dan perubahan zaman). Pada acara tersebut si bayi dan ibunya di peusijuk oleh pihak keluarga yang di ikuti dengan mengenalkan si bayi kepada pihak keluarga yang berhadir. Dalam upacara peusijuk juga disertai dengan pemberian uang adat dan sebentuk emas (cincin,anting-anting atau gelang) dari pihak keluarga kepada si bayi, yang besarnya menurut garis jarak dekat hubungan keluarga dan hubungan masing-masing.

Pada umumnya puncak acara peutron aneuk ialah mengadakan kenduri, dengan mengundang warga desa, dan pada malam hari di adakan tahlil/samadiah disertai dengan doa kepada Allah SWT supaya bayi tumbuh sehat dan mendapat ridho dari-nya.

Biasanya acara turun tanah ini diadakan setelah bayi berumur 7 hari. Dalam jangka waktu yang cukup terlebih bagi anak pertama, sering di adakan acara yang cukup besar dengan memotong kerbau atau lembu. Pada upacara ini bayi di gendong oleh seseorang yang terpandang, baik perangai dan budi pekertinya. Orang yang menggendong memakai pakaian yang bagus, kemudian berlansunglah proses upacara peutron aneuk. Yang dilakukan pada proses peutron aneuk adalah sebagai berikut:

Peusijuk : Bayi dan si ibu ditepung tawari

Peucicap : Bayi dicicipi sesuatu yang manis ke lidahnya seperti madu, air gula dan lain-lain.

Geuboh nan : Bayi diberi nama.

Cuko ok (potong rambut) : Rambut yang telah di potong dimasukkan kedalam buah kelapa muda.

Peutron Aneuk atau sering disebut dengan peugidong tanoh : Proses peutron aneuk dilakukan dengan membaca marhaban, marhaban dibacakan oleh kelompok marhaban di desa itu sendiri.

Tidak keseluruhan dari masyarakat aceh memiliki persamaan didalam mengadakan acara peutron aneuk. Setiap daerah atau kabupaten memiliki ciri khas tersendiri didalam mengadakan ritual.l tersebut. Oleh karennya berikut adalah proses peutron aneuk yang ada di Aceh Besar.

Proses Tradisi Peutron Aneuk di Aceh Besar

Peutron aneuk mulai dilaksanakan pada hari ke 7, 14, 21 dan seterusnya menurut kemampuan keluarga si bayi. Tapi kebiasaan pada masyarakat Aceh Besar melaksanakan acara Peutron aneuk pada hari 43 atau44 dari hari kelahiran si bayi. Beberapa bahan persiapan dalam proses acara peutron aneuk:

Kelapa Tua – Kelapa tua digunakan ketika si bayi diturunkan ataudi injakkan kaki ke tanah dan kemudian dibelah kelapa tua dan airnya disiramkan ke kepala si bayi.

Kelapa muda – Kelapa muda digunakan untuk memasukkan rambut si bayi setelah dicukur. Kemudian kelapa tersebut diletakkan di atas sumur selama sebulan lamanya.

Alat Peusijuk – Alatpeusijuk digunakan untuk menepung tawari si bayi. Bahan-bahan yang digunakan untuk peusijuk antara lain oen seunejuk, neleung sumboe, manek mano, tepong bit, padi yang dicampur beras, ketan kuning dan air. Pesijuk dilakukan sebelum cuko ok atau pemetongan rambut oleh bidan desa tersebut dan sekali lagidilakukan oleh Syekh Marhaban.

Buah-Buahan – Buah-buahan digunakan untuk mengecapkan pada lidah si bayi, buah yang digunakan ada 3, 5 sampai 7 macam buah di antaranya buah apel, salak, semangka, anggur dan lain-lain.

Setelah menyiapkan bahan untuk melakukan proses Peutron Aneuk, mulailah para anggota marhaban membacakan marhaban. Pembacaan marhaban baik untuk bayi laki-laki maupun perempuan dibacakan oleh kaum wanita yang menjadi anggota marhaban tersebut. Ketika marhaban akan dilakukan, si bayi diletakkan di tengan-tengan anggota marhaban. Dalam bacaan marhaban ada beberapa hal yang dilakukan dan dibaca yaitu:

  • Membaca istigfar sebanyak 3 kali
  • Shalawat kepada nabi
  • Asmaul husna
  • Barzanji

Baca Juga :

Ketika Barzanji dibaca, si bayi di peusijuk dan di peucicap oleh syekh Marhaban, kemudian diberi sedekah oleh beberapa orang yang menghadiri acara peutron aneuk. Kemudian Syekh marhaban menggendong si bayi untuk mengelilingi para anggota marhaban yang di ikutioleh ibu si bayi atau biasa disebut peulingka ka’bah, lalu si bayi dikeluarkan dari rumah untuk memulai proses ritual utama, yaitu menginjakkan kaki si bayi ke tanah. Ketika kaki si bayi sudah di pijakkan lalu bayi dimandikan dan kemudian diwudhuk kan, kemudian dibelah kelapa tua oleh salah satu anggota marhaban, setelah kelapa tua dibelah kemudian disiramkan ke kepala si bayi dalam keadaan bayi di gendong dan di payungkan oleh Syekh Marhaban. Kemudian kelapa yang sudah dibelah tersebut diletakkan di sisi sebeleh kanan dan sebelah kiri rumah si bayi. Setelah ritual tersebut si bayi dikenakan pakaian baru atau seunalen,dan pada akhirnya si bayi diletakkan kembali kedalam ayun di antara anggota Marhaban dengan membaca laailahaillallah.

  • Membaca doa.
  • Membaca nasehat untuk si bayi.