Kebudayaan Rapai Daboh, Aceh

Kebudayaan Rapai Daboh, Aceh

Daftarbudayaindo.web.idRapai Daboh adalah seni tari magis yang menakjubkan. Daya tarik ini telah disukai oleh masyarakat Aceh sejak abad ke 19. Daya tarik rapai daboh ini selalu dilakukan di tengah-tengah keramaian atau upacara tradisional dan liburan yang bahagia.

Yang disebut rapai adalah sejenis rebana besar yang dipukul dengan tangan dan daboh berasal dari bahasa Arab, yakni “dabbus” yang merupakan sejenis senjata dan besi runcing dan bundar hulunya, panjangnya kira-kira setengah jengkal, dan bentuknya sebesar telunjuk.

Komposisi rapai daboh yaitu: daboh (awak debus) yang masing-masing memegang rapai, kemudian dipimpin oleh seorang ahli yang disebut “khalifah”. Khalifah ini memiliki ilmu kebal, tak mempan senjata, ahli ma’rifat besi, sehingga berkat mantera-manteranya, senjata-senjata tajam yang ditikamkan ke tubuhnya menjadi bengkok atau pun patah dua. Jika sesekali ia mengalami luka akibat tusukan-tusukan, dengan serta merta dapat disembuhkan sbobet88 seketika setelah ia mengelus lukanya itu dengan telapak tangan.

Cara memainkannya yaitu aneuek daboh memukul rapai secara serentak bersamaan dalam posisi duduk berjajar bersendel bahu atau membentuk lingkaran-lingkaran yang rapat. Ketika rapai mulai dipukul, khalifah bangkit berdiri, lalu maju ke tengah-tengah para pemain sambil melakukan gerakan-gerakan tari secara tekun mengikuti irama rapai.

Dengan besi dabbus yang tergenggam di tangannya, sang khalifah meloncat-loncat mengikuti irama rapai sambil mengucapkan doa-doa dengan suara keras menukuk. Dan bila suara rapai membahana gemuruh, sang khalifah pun serupa orang kesurupan yang menghentak-hentakkan tubuhnya mengikuti irama rapai. Maka pada kala itu, mulailah dengan bandar spbobet88 indonesia kesaktiannya, ia menikam dirinya sendiri, baik menikam pahanya, perutnya, atau pun anggota tubuh lainnya sambil berloncat-loncat.

Baca juga : Sejarah Sendratari Ramayana

Sering juga dipergunakan rencong. Dan rencong ini pun akan bengkok bahkan ada yang patah ketika ditusuk-tusuk ke tubuh sang khalifah. Khalifah juga mempertontonkan atraksi lainnya, seperti melilitkan rantai besi panas ke lehernya, badan atau pinggangnya, memukul diri sendiri dengan membabibuta, bloh apui (menari di atas bara api), atau menimpakan batu besar ke kepalanya sendiri, dan atraksi-atraksi lain yang membuat tubuh khalifah luput dari celaka.

Biasanya rapai daboh digelar pada malam hari. Karena kesenian ini merupakan atraksi kesaktian, maka para pemainnya tidak boleh menyombongkan diri atau angkuh dengan kepandaiannyaitu. Dan jika pantangan ini dilanggarnya, sering terjadi malapateka. Lalu yang terjadi selanjutnya adalah khalifah akan bersimbah darah, bahkan berujung pada kematian. Oleh karena itu, rapai daboh tidak pernah dipertunangkan.