Mengenal Ritual Tiwah Cara Suku Dayak Menghargai Kematian

Mengenal Ritual Tiwah Cara Suku Dayak Menghargai Kematian

Daftarbudayaindo.web.id – Upacara tiwah merupakan ritual yang dilakukan Suku Dayak yang bertujuan mengantar arwah menuju tempat asal (lewu tatau) bersama Ranying (dewa tertinggi dalam kepercayaan Kaharingan).

Upacara diawali dengan mendirikan sebuah bangunan berbentuk rumah yang dinamakan Balai Pangun Jandau, yakni mendirikan balai hanya dalam satu hari. Persyaratan yang harus dipenuhi yaitu seekor babi yang harus dibunuh sendiri oleh Bakas Tiwah.

Setelah Balai Pangun Jandau selesai dibangun, Bakas Tiwah melakukan Pasar Sababulu yaitu memberikan tanda buat barang-barang yang akan digunakan untuk upacara Tiwah nantinya dan menyediakan Dawen Silar yang nantinya akan digunakan untuk Palas Bukit.

Setelah selesai pada proses awal, maka proses dilanjutkan dengan mendirikan Sangkaraya Sandung Rahung yang diletakkan di depan rumah Bakas Tiwah, gunanya untuk menyimpan tulang belulang masing-masing salumpuk liau.

Setelah itu seekor babi dibunuh diambil darahnya untuk memalas Sangkaraya Sandung Rahung. Di sekitar Sangkaraya Sandung Rahung dipasang bambu kuning dan lamiang atau Tamiang Palingkau, juga kain-kain warna kuning dan bendera Panjang Ngambang Kabanteran Bulan Rarusir Ambu Ngekah Lampung Matanandau.

Sambil mempersiapkan semua alat-alat musik bunyi-bunyian seperti gandang, garantung, kangkanung, toroi, katambung dan tarai. Namun terlebih dahulu semua peralatan musik, juga semua perkakas yang akan digunakan harus melalui proses ritual tersendiri, dalam upacara Tiwah dipalas atau disaki dengan darah binatang yang telah ditentukan.

Baca Juga : Indonesia Miliki Sembilan Warisan Dunia

Penawur mulai melaksanakan tugasnya menawur untuk menghubungi salumpuk liau yang akan diikutsertakan dalam upacara Tiwah tersebut agar mengetahui dan memohon izin kepada para Sangiang, Jata, Naga Galang Petak, Nyaring, Pampahilep. Juga pemberitahuan diberikan kepada Sangumang, Sangkanak, Jin, Kambe Hai, Bintang, Bulan, Patendu, Jakarang Matanandau.

Setelah itu maka persiapan dilanjutkan dengan persiapan hewan kurban yang sudah disiapkan, seperti babi, sapi atau kerbau diikat di tiang Sangkaraya. Kemudian diadakan tarian Manganjan yang diawali dengan tiga orang yang berputar mengelilingi Sangkaraya. Semua bunyi-bunyian saat itu ditabuh, pekik sorak kegembiraan terdengar di sana-sini, suasana meriah riang gembira.

Pada hari itu beras merah dan beras kuning ditaburkan ke arah atas. Setelah Menganjan selesai, mulailah acara membunuh binatang korban. Darah binatang yang dibunuh dikumpulkan pada sebuah sangku dan akan digunakan untuk membasuh segala kotoran. Diyakini bahwa darah binatang yang dikorbankan tersebut adalah darah Rawing Tempun Telun yang telah disucikan oleh Hatalla.

Semua persiapan proses disiapkan, maka salumpuk liau pun turut hadir serta aktif berperan serta dalam perayaan Tiwah tersebut namun kehadirannya tidak terlihat oleh mata jasmani.

Salumpuk liau jadi semakin bahagia dan gembira ketika para keluarga, baik ayah, ibu, anak, paman, bibi, kakek neneknya hadir berkumpul di situ, dan menemui mereka yang hadir dalam perayaan tersebut.

Mereka menggosokkan air kunyit ke telapak tangan dan kaki mereka yang hadir, menuangkan minyak kelapa di kepala para tamu, sambil menuangkan baram dan anding serta menawarkan ketan, nasi, kaki ayam, serta lemak babi yang diakhiri dengan menyuguhkan rokok dan sipa.

Pada kepercayaan Hindu Kaharingan, ritual Tiwah biasanya dibimbing oleh seorang “Basir” yang sering disebut “Basir Duhung Handepang Telun” adalah rohaniwan yang melaksanakan upacara tiwah bersama Basir Upu, Basir Panggapit dan Basir Pendamping.

Beliau pada waktu melakukan upacara sebagai tukang hanteran mengenakan pakaian kebesaran seperti Raja Pampulau Hawun, Randin Talampe Batanduk Tunggal pada saat Beliau melaksanakan Tiwah Suntu di Batu Nindang Tarung Kereng Angker Batilung Nyaring.

Ada dua tugas yang harus dilaksanakan oleh seorang Basir atau Pisor yaitu, pertama, Penuntunan dan pembimbing umat dalam bidang keagamaan. Dalam hubungannya dengan pembinaan umat, Basir Duhung Handepang Telun berkewajiban pula sebagai ulama Hindu Kaharingan.

Beliau wajib memberikan tuntunan dalam tata kehidupan beragaman kepada umat yang datang memohon petunjuk tentang memilih hari yang baik untuk melaksanakan upacara keagamaan.

Serta yang kedua, pelayan umat dalam melaksanakan upacara keagamaan, yaitu Basir Duhung Handepan Telun mempunyai tugas yang amat berat dalam melaksanakan upacara ritual keagamaan Tiwah.

Beliau bertugas sebagai Tukang Hanteran Liau, manaur padi, dan memandu para duda dan janda Kanjan Pahi.

Menurut Kepala Dinas Pariwisata Provinsi Kalimantan Tengah, DR. Guntur Talajan, bahwa upacara tiwah kini menjadi sesuatu yang sangat istimewa bagi masyarakat Kalimantan Tengah, bahkan dari wisatawan lokal hingga mancanegara, banyak hal yang cukup menarik pada saat pelaksanaan upacara tiwah itu sendiri.

Namun ada yang perlu diperhatikan bahwa saat wisatawan mengikuti datau menghadiri upacara tiwah itu sendiri, ada sejumlah pantangan saat menyaksikan upacara tiwah.

Yakni, ada sayuran, jenis ikan, serta jenis hewan yang tidak boleh dibawa ke lokasi upacara, jika aturan ini dilanggar, maka pelanggar akan mendapat sanksi adat tiwah.