Pacu Jawi Kebudayaan Sumatera Barat

Pacu Jawi Kebudayaan Sumatera Barat

daftarbudayaindo.web.id – Kegiatan ini sudah ada sejak ratusan tahun lalu, yang pada awalnya merupakan kegiatan yang dilakukan oleh petani sehabis musim panen untuk mengisi waktu luang sekaligus menjadi sarana hiburan bagi masyarakat setempat. kita sebut saja dengan balapan sapi dalam bahasa Indonesia ini adalah sebuah atraksi permainan tradisional yang dilombakan di provinsi Sumatera Barat, Indonesia.

artikel Pacu Jawi Kebudayaan Sumatera Barat

Pelaksanaan alek pacu jawi di Kabupaten Tanah Datar dilaksanakan secara bergiliran pada empat kecamatan. Satu kali putaran lomba biasanya empat minggu, ada yang setiap hari Rabu dan ada pula pada setiap hari Sabtu. Acara dilakukan di sawah milik masyarakat setelah selesai masa panen dan tempatnya tidak tetap pada satu lokasi saja. Bila kegiatan diadakan pada satu kecamatan maka peserta dari kecamatan lain akan berdatangan. Dalam satu masa perlombaan, jumlah jawi yang berpacu mencapai 500 hingga 800 ekor.

Baca Juga :

Pacu jawi diikuti oleh jawi secara berpasangan yang dikendalikan oleh seorang anak joki yang berpegangan pada tangkai bajak. Anak joki dengan tidak memakai alas kaki ikut berlari bersama jawinya di dalam sawah yang penuh lumpur dan air. Acaranya berlansung mulai pukul sepuluh pagi hingga pukul lima sore. Pada waktu perlombaan berlansung kadangkala juga terjadi transaksi jual beli jawi oleh para pedagang dan pemilik jawi. Biasanya jawi yang telah sering memenangkan lomba akan naik harganya hingga dua kali lipat. Jawi pemenang itu akan menjadi kebanggaan bagi pemiliknya dan diincar oleh banyak orang. Itupun menjadi lambang prestise.

Banyak orang yang belum tahu bagaimana cara penilaian jawi terbaik yang menjadi pemenangnya. Teknis penilaian inipun penuh filosofi dan nilai-nilai yang baik. Adapun jawi terbaik adalah jawi yang dapat berjalan lurus tidak miring dan tidak melenceng ke mana-mana. Dan akan lebih baik lagi apabila jawi tersebut dapat menuntun temannya berjalan lurus. Berarti jawi itu sehat dan tubuhnya kokoh kuat. Biasanya dalam satu perlombaan akan terlihat jawi yang berjalan lurus dan yang tidak, bahkan ada yang sampai masuk ke sawah lain. Jadi yang dinilai bukan hanya kencang larinya dan bukan bentuk struktur tubuhnya saja. Filosofinya jawi saja harus berjalan lurus apalagi manusia. Dan manusia yang bisa berjalan lurus tentu akan tinggi nilainya, itulah pemenangnya.