Ragam Budaya di Masyarakat Lembah Baliem

Ragam Budaya di Masyarakat Lembah Baliem

Daftarbudayaindo.web.id –  Kebudayaan masyarakat di Lembah Baliem pada umumnya dapat dilihat dan dikenal dari rumah tradisional berbentuk setengah bulat untuk pria atau (honail/ pilamo), rumah tidur untuk wanita (ebe ai). Halaman umum (silimo), rumah yang Satu dengan rumah yang lain dalam satu lingkungan (usilimo).

1 . Perang Suku Di Lembah Baliem
Orang Lembah Baliem atau dikenal dengan/ suku Hubula dulunya memiliki budaya perang suku, sebagai implikasi terhadap keseimbangan ekosistem, pengembangan diri dalam kepemimpinan pada klen atau sukunya serta membangkitkan gairah hidup orang baliem. Salah satu simbol strategi perang yang terkenal adalah “Menara Pengintai” (kayo).

SBOBET adalah situs taruhan secara daring. SBOBET beroperasi di Asia yang dilisensikan oleh First Cagayan Leisure & Resort Corporation, Manila-Filipina dan di Eropa dilisensikan oleh Pemerintah Isle of Man untuk beroperasi sebagai juru taruhan olahraga sedunia. Situs Judi Online Terbesar SBOBET menawarkan taruhan olahraga dalam beberapa bahasa. Sbobet biasanya disebut sebagai Situs Bandar Judi Bola Terpercaya yang sudah dikenal di Indonesi sejak tahun 2014.

Perang merupakan suatu kesempatan untuk memperbesar pengaruh seseorang, bila ia dapat menunjukkan keberaniannya atau mendemonstraslkan kebolehannya dalam mengatur strategi atau membunuh musuh.

2. Aksesoris Hiasan pada Tubuh Suku di Lembah Baliem
Hiasan pada tubuh serta lambang aksesoris yang dipergunakan juga akan mempengaruhi penampilan dan sistem kepemimpinan jika dipandang dari kehidupan sosial, tokoh yang kuat, berani, cakap, terampil dan dipercayai dapat melindungi serta mengatur kehidupan dan masa depan sukunya.

Terdapat aksesoris pada tubuh pria berupa perhiasan di kepala seperti mahkota dari bulu burung (berwarna merah atau putih) benama Kare-Kare, perhiasan di kepada (bulu burung Elang atau Nuri atau Bangau Putih) bernama Kinisi atau puali, perhiasan di wajah pada hidung (taring babi) bernama Warmesi, perhiasan wajah di kening (warna putih) bernama Herabuak, perhiasan bulu ekor anjing di di lengan (kiri dan kanan) bernama Yeke esi, perhiasan di dada (semacam dasi bernama Walimo, perhiasan di punggung (bulu burung elang) bernama Sawusa, dan Busana Tradisonal Pria (penutup kemaluan pria) bernama Holim atau Koteka.

Juga terdapat aksesoris pada tubuh wanita berupa perhiasan di kepala seperti mahkota dari bunga (warna kuning) bernama Holusogom eken, perhiasan di leher dan dada (semacam dasi dari kulit kayu) bernama Zion atau Tipar, Rok Tradisional bagi seorang gadis (belum menikah) bernama Sali, Rok Tradisional bagi seorang wanita (yang sudah menikah) bernama Yokal, Rok Tradisional terbuat dari benang noken (rok rajutan benang asli) bernama Pisak Kagalek dan Rok Tradisional berwarna kuning atau merah (lapisan atas rok) bernama Yokal Ewe atau elyem.

Adapun perhiasan tangan pria atau wanita yang dipegang berupa Tombak panjang berwarna hitam (pria yang selalu membawanya) bernama Sege, Alat berburu atau alat perang berupa Busur dan anak panah (pria) bernama Sikhe, Benda seperti sulak (kemucing) berwama putih (pria dan wanita yang pegang) bernama Tok-tok dan Benda seperti sulak (kemucing) berwarna hitam (dari bulu kasuari) bernama Muliage.

Baca Juga : Naulu Tradisi Penggal Kepala di Pedalaman Maluku

3. Kesenian dan Tari-Tarian Suku di Lembah Baliem
Suku Hubula di Lembah Baliem secara umum hanya mengenal kesenian seperti perpaduan seni suara dan seni tarian tradisional. Kesenian tradisional atau Etai sering dilagukan pada beberapa momen seperti kemenangan perang, pesta adat atau pernikahan adat. Etai juga dilakukan pada waktu orang berkebun atau membuat pagar kebun sebagai penyemangat kerja.

Ada juga Etai pada waktu perang di imana etai yang dilagukansyairnya’” mengandung kata-kata permusuhan (sindirian) untuk membangkitkan rasa dendam, membangkitkan keberanian, semangat tempur, jiwa patriptism dan mendorong tokoh perang untuk segera bertindak dan mewujudkannya. Di sisi lain. Etai dapat mendatangkan pertentangan, perkelahian, apabila syairnya berisikan sindiran atau sinisme, bahkan juga untuk romantika percintaan.