Ratoh Duek, Aceh

Ratoh Duek, Aceh

Daftarbudayaindo.web.id – Selain seudati, juga dikenal sebagai ratoh dong (standing seudati) atau saman, di Aceh ada juga tarian lain yang disebut Ratoh Duek. Tarian Ratoh Duek adalah tarian yang ditampilkan dalam posisi duduk dan berjongkok, selain gerakan khusus lainnya. Tarian ratoh duek sama-sama populer di Aceh. Ratoh Duek adalah campuran gerakan tarian ritmis dan liriknya dinyanyikan dengan suara yang manis di antara pemain lain (penari). Lagu dalam tarian dibagi menjadi tiga, yaitu: lagu syaidan, lagu lhök dan tunang.

Lagu syaidan merupakan bagian pertama dari ratoh duek yang mengisahkan suatu peristiwa dan uraian-uraian. Di samping ungkapan kisah-kisah yang merdu dan serempak untuk membentuk perpaduan irama lagu dan irama gerak yang sepadan, babak ini diiringi juga dengan gerak-gerak tangan, lenggak-lenggok badan, dan gelengan-gelengan kepala yang teratur, baik ke kiri maupun ke kanan, seluruhnya diselaraskan dengan irama dari syair-syair yang diucapkan.

Lagu lhök. Babak ini menampilkan atraksi lhök taloe. Di sinilah keistimewaan dan ciri khas tari ratoh duek. Sambil berlenggak-lenggok badan, ayunan-ayunan tangan dan gelengan-gelengan kepala yang dilakukan secara bersimpuh duduk, para penari memperlihatkan seni merangkai (lhök) tali sebagai salah satu perlengkapan tarian. Di antara para pemainnya, tali dirangkai-rangkaikan, diselang-seling dari tangan yang satu ke tangan yang lain, sehingga menyerupai bentuk rangka rumah, kapal, gunung, layangan, dan aneka ragam bentuk-bentuk yang lain. Lhök taloe (rangkain tali) seperti ini sangat rumit untuk menguraikannya kembali karena pilinan-pilinan tersembunyi dan punca-punca tali yang dirahasiakan. Melepaskan kembali rangkaian-rangkaian tali yang rumit dari untaiannya yang tersembunyi itu dilakukan sambil memainkan badan dengan gerak tari, dan tali pun lepas sejengkal demi sejengkal, sehingga usai seluruhnya. Apabila tali telah terhampar kembali seperti semula, babak kedua dianggap selesai dan di sinilah terletak kekaguman para penonton yang melihat kemahiran suatu kelompok ratoh duek.

Pada akhir pertunjukan, lazimnya para pemain yang sejak tadi berjumlah 50 sampai bahkan mendekati ratusan orang, menghentikan semua gerak aktifnya dan tinggal diam tanpa peranan apa pun lagi. Tinggallah seorang saja di antara mereka yang menyelesaikan babakan terakhir dari pertunjukan ini. Ia dengan syair-syair yang diiringi tarian mengucapkan dialog mengenai persoalan yang pelik-pelik.

Baca juga : Alat Musik Grimpheng, Aceh

Jika ditunangkan, maka kelompok yang dianggap juara dalam tunang (pertandingan) adalah yang sanggup memecahkan soal-soal yang diajukan oleh kelompok lawannya dan mampu menampilkan seni merangkai tali yang pelik-pelik. Jawaban-jawaban yang diberikan dengan lagu yang merdu tambah menarik dan meningkatkan nilai kemenangan mereka.

Di dalam pertunjukan ratoh duek, sering pula pemainnya memerankan suatu lakon indah. Misalnya keahlian meliukkan tubuh sampai-sampai kepala merendah ke belakang, memungut sesuatu benda dengan mata, mengambil uang ketip (sejenis mata uang yang sangat tipis) dengan mulut, dan aneka ragam kemahiran yang lain. []

Cuplikan tulisan di atas diolah dari buku Atjeh Jang Kaja Budaja karangan T. Alibasjah Talsya halaman 13-14. Buku tersebut diterbitkan oleh Pustaka Meutia, Banda Atjeh, tahun 1972.