Rencong, Aceh

Rencong, Aceh

Daftarbudayaindo.web.idRencong menempati tempat penting dan memiliki peran besar dalam sejarah perjuangan rakyat Aceh, dari zaman dulu hingga perjuangan mempertahankan Proklamasi Kemerdekaan Indonesia. Rencong adalah simbol kekayaannya dan wujudnya sangat indah, sehingga orang Aceh biasanya memasukkan senjata ini ke pinggang mereka ke mana pun mereka pergi. Itu terbuat dari besi, memiliki mata yang tajam dan tepi yang tajam.

Biasanya rencong disisipkan di pinggang bahagian kiri depan dan kadang-kadang pada bahagian pusat. Hal ini berguna supaya dapat dicabut dengan mudah apabila ada serangan mendadak dari musuh sebagai salah satu bentuk pertahanan diri.

Bentuk rencong tidak hanya mungil dan indah, tetapi juga ditempa sedemikian rupa. Jika diperhatikan, bentuk rencong serupa bentuk kalimat Bismillahirrahmanirrahim. Gagangnya yang melekuk kemudian menebal pada bahagian sikunya merupakan aksara Arab, yakni huruf ba. Bujuran gagang tempat genggaman merupakan huruf sin. Bentuk lancip yang menurun ke bawah pada pangkal besi dekat gagangnya merupakan huruf mim. Lajur besi dari pangkal gagang hingga dekat ujungnya merupakan huruf lam. Ujung yang runcing dengan dataran sebelah atas mendatar dan bahagian bawah yang sedikit melekuk ke atas merupakan huruf ha. Maka rangkaian dari huruf ba, sin, mim, lam, dan ha itulah yang menunjukkan kalimat Basmallah.

Oleh karenanya, di dalam perjuangan rakyat Aceh, rencong pantang dipergunakan untuk keperluan keji-keji, tetapi ia dipakai untuk mempertahankan diri dari sesuatu malapetaka dan sebagai alat pembunuh yang ampuh terhadap segala bentuk kejahatan. Di dalam setiap peperangan ataupun perjuangan untuk kepentingan tanah air dan bangsa, agama dan kebenaran, maka rencong tidak pernah ditinggalkan, meskipun tiap pejuang Aceh memiliki senjata-senjata yang lebih modern. Oleh karena jiwa dan semangat yang dilambangkannya dan bentuk yang menunjukkan dengan simbol kebesaran Ilahi, acapkali rencong menjadi pendorong jiwa patriotisme bagi yang menggunakannya.

Di saman dahulu, rencong tidak dibuat oleh sembarang orang, akan tetapi ditempa oleh para pandai besi yang mempunyai makrifat besi, juga pembuatnya kadang-kadang dengan urutan tangan setelah seseorang pandai besi mengucapkan doa dan melakukan sembahyang sunat dua rakat dan badannya suci dari segala noda.

Bahan yang digunakan ialah besi-besi pilihan yang dipadu dengan emas, perak, tembaga, timah dan juga zat-zat racun berbisa. Racun berbisa ini bertujuan untuk melukai lawan apabila lawan tersebut memiliki kekebalan terhadap besi. Dia akan tetap berkuah darah karena campuran unsur-unsur logam dari berbagai jenis yang lain.

Penggaba dan kekebalan yang bagaimana pun juga kuatnya tidak akan mampu bertahan dengan tikaman rencong yang ujung runcingnya dan mata tajamnya yang berkilaun itu mengandung berbagai unsur logam yang mampu menembusi daging manusia.

Baca juga : Ratoh Duek, Aceh

Gagang rencong dibuat dengan berbagai bentuk dan indah. Ada bentuk yang biasa (lurus) dan ada pula yang melengkung ke atas, atau yang dikenal dengan nama rencong meucunggek. Untuk rencong yang tinggi nilainya, gagang dibuat dari gading gajah atau tanduk-tanduk pilihan, sehingga selain warnanya menarik juga memancarkan cahaya akibat licin.

Rencong tidak pernah diasah agar matanya tetap tajam. Senjata ini yang dipergunakan adalah ujungnya yang runcing saja. Oleh karena rencong merupakan senjata yang unik dan memiliki khas tersendiri di negeri ini, maka Aceh sering juga disebut sebagai Tanah Rencong.[]

Cuplikan tulisan di atas diolah dari buku Atjeh Jang Kaja Budaja karangan T. Alibasjah Talsya halaman 7-9. Buku tersebut diterbitkan oleh Pustaka Meutia, Banda Atjeh, tahun 1972.