sarung bugis

Sarung Bugis

Sarung Bugis – Salah satu suku yang ada di Indonesia adalah Suku Bugis,mayoritas suku Bugis ada di pulau Sulawesi,namun seiring waktu sekarang sudah tersebar di seluruh Indonesia.Suku Bugis tergolong ke dalam suku-suku Melayu Deutero. Masuk ke Nusantara setelah gelombang migrasi pertama dari daratan Asia tepatnya Yunan.

Dalam budaya suku bugis terdapat tiga hal yang bisa memberikan gambaran tentang budaya orang bugis, yaitu konsep ade, siri na pesse dan simbolisme orang bugis adalah sarung sutra,yang sekarang lebih banyak disebut sarung sutra Bugis.

Ya, Sarung Sutera Bugis ini masuk dalam salah satu sarung khas Indonesia yang unik. Keunikan pertama datang dari proses pembuatannya yang bisa memakan waktu 1 bulan untuk sepotong kain sarung asli Bugis. Keunikan lainnya, kain sarung ini dikenal sebagai sarung dengan corak yang paling indah.

Motif sarung sutera Bugis ini terdiri dari bermacam-macam model. Setiap model pun memiliki filosofi dan maknanya masing-masing. Beberapa motif atau corak Sarung Sutera Bugis ini adalah Motif Balo Lobang, Motif Tettong dan Motif Makkalu, Motif Bombang, Motif Cobo’, juga Motif Moppang. Perlu ditekankan ya kalau di sini kain sarungnya tidak seperti kain sarung di pasaran yang sangat identik dengan pola kotak-kotak dan warna dominasi cokelat.

Lalu apa filosofi dan makna setiap motif kain sarung ini? Pada sarung dengan motif Balo Lobang, sarung dengan corak kombinasi garis berbeda ketebalan ini dikhususkan penggunaannya untuk laki-laki yang belum menikah. Jadi bisa dikatakan ini adalah identitas bagi pria lajang. Biasanya warna yang digunakan seputar warna merah baik itu merah menyala atua merah keemasan. Untuk sarung bermotif Tettong dan Makkalu, coraknya berupa permainan kombinasi garis dan kombinasi peletakan garis (tegak dan melintang, melintang dan melingkar).

Baca juga:

 

Berbeda pada sarung dengan motif Bombang (ombak), kain ini memiliki corak seperti bentuk ombak namun sebenarnya merupakan motif segitiga sama sisi yang diletakkan bersebelahan dan saling menyambung. Serupa dengan Motif Bombang, kain sarung dengan motif Cobo’ memiliki bentuk segitiga dengan bentuk segitiga yang lebih ramping. Dalam keseharian masyarakat Bugis, kain sarung dengan motif Cobo’ banyak digunakan oleh mereka yang sedang masa pendekatan (pacaran) hingga pada proses melamar.

Beralih ke motif yang paling tua bahkan bisa dikatakan sudah punah, Motif Moppang adalah salah satu motif pada kain sarung khas Bugis yang tidak bisa sembarangan digunakan. Sampai saat ini, motif satu ini paling sulit ditemui. Kain sarung dengan motif ini dulunya merupakan sebuah sarung yang diperuntukkan bagi suami-istri untuk melakukan hubungan intim. Jadi, sarung bermotif Moppang ini memiliki filosofi tersendiri sebagai selimut pasangan suami-istri yang melakukan persenggamaan.

Berdasarkan banyaknya motif dengan filosofi dan manfaatnya masing-masing, tidak heran jika kain ini digadang-gadang sebagai salah satu kain sarung terbaik dibandingkan sarung tenun lainnya. Pembuatan sarung tenun Bugis ini bukan sekadar soal memenuhi tuntutan tren atau makna tersendiri dari setiap motifnya, tetapi juga memiliki makna tersendiri terhadap penggunanya.

Inilah informasi yang bisa kami himpun dan sajikan kepada Anda terkait Sarung Tenun Bugis sebagai salah satu budaya bangsa kita yang memiliki filosofi dan makna dalam. Semoga informasi ini dapat memberikan pengetahuan baru bagi Anda tentang hasil budaya Indonesia khususnya Sarung Tenun Bugis.