Sejarah Angklung Di Indoneisa

Sejarah Angklung Di Indoneisa

Daftarbudayaindo.web.id – Sekali lagi budaya Indonesia diakui oleh UNESCO. Pada 19 Januari 2011, Angklung dinobatkan sebagai bagian dari Warisan Dunia. Pemerintah Indonesia juga menerima sertifikat khusus untuk itu. Perlahan-lahan ini membuat popularitas angklung semakin banyak. Dilaporkan bahwa alat musik ini dari Jawa Barat, dimainkan dengan rock, diajarkan kepada anak-anak di Korea Selatan, Jepang dan Malaysia. Di Indonesia, pertunjukan angklung yang terkenal adalah di Saung Angklung Udjo. Terletak di Bandung, tepatnya di Jalan Padasuka, Pasirlayung, Cibeunying Kidul.

Sejarah Alat Musik Angklung

Sejarah angklung sangatlah penting untuk dipelajari karena dengan mengetahui sejarah dibalik terciptanya angklung sebagai alat musik, bisa menambah rasa kagum dan bangga akan warisan budaya Indonesia yang satu ini. Yuk simak bagaimana awal mula tercipta angklung sampai dengan perkembangannya saat ini.

Kata “angklung” sendiri berasal dari 2 kata dari bahasa Sunda, yaitu “angkleung-angkleung” yang berarti diapung-apung dan “klung” yang merupakan suara yang dihasilkan oleh alat musik tersebut. Dengan kata lain angklung berarti suara “klung” yang dihasilkan dengan cara mengangkat atau mengapung-apungkan alat musik itu. Ada teori lain yang mengatakan bahwa angklung berasal dari 2 kata dalam bahasa Bali, yaitu “angka” yang berarti nada dan “lung” yang berarti hilang. Sehingga angklung dapat diartikan sebagai nada yang hilang.

Angklung merupakan alat musik berasal dari Jawa Barat yang terbuat dari beberapa pipa bambu dengan berbagai ukuran yang dilekatkan pada sebuah bingkai bambu. Cara memainkan alat musik angklung adalah satu tangan memegang bagian atas angklung dan tangan lain memegang bagian bawah dari sisi lain angklung tersebut lalu menggoyangkannya. Hal ini menyebabkan pipa-pipa bambu yang menyusun angklung saling berbenturan menghasilkan suatu bunyi tertentu. Setiap satu alat musik angklung hanya menghasilkan satu nada. Berbeda ukuran angklung yang digetarkan atau digoyangkan menghasilkan nada yang berbeda pula. Oleh karena itu, dibutuhkan beberapa pemain angklung untuk menghasilkan melodi yang indah untuk didengar. Seorang pemain angklung dapat memainkan 2 atau 3 buah alat musik angklung.

Pada abad ke 12 sampai abad ke 16 terdapat Kerajaan Sunda di Nusantara, diperkirakan pada saat itulah awal dari sejarah angklung. Saat itu rakyat dari Kerajaan Sunda mempercayai bahwa dengan memainkan alat musik angklung dapat menyenangkan Nyai Sri Pohaci. Nyai Sri Pohaci sendiri dipercaya sebagai dewi kesuburan bagi rakyat Kerajaan Sunda. Nyai Sri Pohaci yang terpikat dengan alunan alat musik yang terbuat dari bambu itu akan turun dan membuat tanah para rakyat menjadi subur dan menghasilkan tanaman apapun yang ditanam oleh rakyat saat itu.

Baca juga : Sejarah Kris Indoensia

Selain untuk “mengundang” Nyai Sri Pohaci, angklung pun digunakan untuk membangkitkan semangat para prajurit yang berperang. Oleh karena itu, pemerintah Hindia Belanda pernah melarang alat musik ini untuk dimainkan. Larangan keras dari pemerintah Hindia Belanda membuat pemain angklung semakin berkurang.

Perkembangan Alat Musik Angklung

Permainan angklung selalu ada di setiap acara perayaan panen sebagai persembahan untuk Nyi Sri Pohaci. Seiring berjalanya waktu, permainan angklung dijadikan sebagai arak-arakan setiap kali ada perayaan di tanah. Bahkan alat musik angklung dapat menyebar tidak hanya di Jawa tapi sampai ke seluruh dunia. Pada awal abad ke 20, Thailand mengadopsi alat musik angklung sebagai misi kebudayaan antara Thailand dan Indonesia. Bahkan angklung Buncis Sukaejo dapat ditemui di The Evergreen Stage Collage, sebuah universitas di Amerika Serikat.

Udjo Ngalagena yang dikenal sebagai tokoh yang mengembangkan teknik angklung mengajarkan cara memainkan angklung pada banyak orang. Beliau pun membangun Saung Angklung Udjo di Bandung agar semakin banyak orang yang mengetahui sejarah angklung dan seluk-beluknya. Sekarang Saung Angklung Udjo menjadi salah satu tempat wisata di Bandung di mana setiap pengunjungnya dapat melihat sendiri proses pembuatan sebuah angklung sampai aksi panggung yang dipentaskan setiap minggunya.