Tradisi Bau Nyale

Tradisi Bau Nyale

daftarbudayaindo.web.id – Tradisi Bau Nyale, Tradisi Bau Nyale adalah tradisi Menangkap cacing laut yang ada di Bali, Indonesia. dari arti Bau Nyale yang berarti “Bau” Menangkap, dan “Nyale” adalah Cacing Laut berjenis filum annelida.

Salah satu tardisi turun temurun yang dilakukan sejak ratusan tahun silam. Awal mula tradisi ini tidak ada yang mengetahui secara pasti. Namun berdasarkan isi babad sasak yang dipercaya oleh masyarakat, tradisi ini berlangsung sejak sebelum 16 abad silam.

Baca juga : Ritual Tanam Sasi

Sejarah

Berbicara persoalan Bau Nyale sudah pasti akan berhubungan dengan cerita yang melegenda diingatan masyarakat tentang Putri Mandalika. Putri yang cantik nan jelita diperebutkan oleh banyak pangeran dari berbagai kerajaan. Putri yang terlahir dari rahim seorang permaisuri bernama Dewi seranting serta raja Tonjang Beru. Raja dan permaisuri ini amat terkenal dengan kerendahan hati serta kewibawaannya.

Disamping paras yang cantik dan kelembutan hati yang dimiliki putri sang raja, banyak diantara pangeran-pangeran yang berasal dari kerajaan suku sasak yang lainnya mulai mengincar Putri Mandalika untuk dijadikan permaisuri.

Ada dua kerajaan yang amat getol dalam memperebutkan sang putri yaitu kerajaan johor dan kerajaan lipur. Mereka adalah pangeran Datu Taruna dan Pangeran Maliawang, kedua pangeran ini bertekat untuk mendapatkan Putri Mandalika. Namun takdir berkata lain.

Putri Mandalika yang tidak berpihak pada kedua pangeran tersebut memilih jalan lain untuk hidupnya. Akhirnya jalan satu-satunya yang dipilih oleh sang putri adalah menceburkan dirinya ke laut. Dengan alasan agar bisa bermanfaat bagi orang banyak.

Ada kebanggaan tersendiri yang hadir saat perayaan Bau Nyale ini diselenggarakan. Mengingatkan kita akan sosok Putri Mandalika yang meimilih jalan hidupnya supaya bermanfaat bagi masyarakat banyak yang hingga saat ini bisa manfaatkan ataupun dikonsumsi.

Bentuknya yang unik dan cita rasa yang khas memiliki manfaat masing-masing sesuai dengan keyakinan masyarakat. Banyak yang mengaggap cacing laut jelmaan Putri Mandalika ini bisa dimanfaatkan sebagia obat-obatan. Tidak hanya diolah menjadi makanan pelengkap nasi saja akan tetapi banyak diantara masyarakat juga secara langsung memakan hidup-hidup Nyale tersebut.

Sebelum perayaan dimulai biasanya banyak persiapan yang dilakukan berupa ritual-ritual pembacaan do’a. Setiap rangakaian acara festival Bau Nyale, biasanya akan diikuti dengan pagelaran seni dan budaya suku sasak. Mulai dari karnaval sekaligus pemilihan kandidat Putri Mandalika, Perisaian dan Gendang Blek.

Adapun lokasi penangkapan Nyale ini berada di lokasi tertentu, tidak sembarang pesisir pantai. Biasanya banyak dijumpai di pesisir pantai Lombok Selatan. Seperti pantai Jerowaru, Pantai Sungkin dan pantai Kaliantan.