Tradisi Ngarot dari Indramayu

Tradisi Ngarot dari Indramayu

Tradisi Ngarot – Indonesia sudah dikenal oleh dunia mempunyai banyak suku dan kebudayaan yang beraneka ragam,maka dari itu Indonesia menjadi kaya akan tradisi khas masyarakatnya di masing-masing wilayah,terutama di daerah Pulau Jawa. Salah satu daerah di Pulau Jawa yang banyak menyimpan budaya ialah Kabupaten Indramayu di tanah Pasundan Jawa Barat.

Dilihat dari sejarahnya, Indramayu berasal dari kata “Darma Ayu”, sebuah legenda yaitu Nyi Endang Darma Ayu sebagai Dewi dari Istana langit yang jatuh cinta pada Arya Wiralodra. Selain dijuluki sebagai kota Mangga, Indramayu juga memang sangat kental dengan seni tradisi dan seni pertunjukkan. Jadi memang pantas Indramayu disebut sebagai kota budaya. Ragam budaya yang ada di daerah Indramayu sebagai hasil akulturasi dua budaya, yaitu Sunda dan Jawa. Sebab, budaya di Indramayu sebagai impementasi ekspresi yang penduduknya campuran Suku Sunda dan Suku Jawa. 

Salah satu tradisi yang masih dilestarikan oleh masyarakat Indramayu sampai sekarang adalah Tradisi Ngarot.

Tradisi Ngarot adalah tradisi masyarakat desa Lelea yang diselenggarakan setiap tahun. Tradisi ini dilaksanakan sebagai ungkapan rasa syukur petani menjelang masa tanam padi. Selain ungkapan rasa syukur, tradisi ngarot juga dilaksanakan sebagai bentuk penghormatan kepada leluhur mereka yang disebut Ki Buyut Kapol.

Dahulu, Ki Buyut Kapol yang kaya raya sangat prihatin melihat keadaan warga desa Lelea yang hidup dengan kemiskinan dan tanpa keterampilan. Oleh sebab itu, Ki Buyut Kapol memberikan sawahnya yang seluas 26.100 meter persegi. Sawah tersebut kemudian diolah bersama-sama. Awal pengolahan sawah dilaksanakan pada musim hujan yang jatuh pada bulan Desember, tepatnya minggu ketiga dan jatuh pada hari rabu.

Tradisi Ngarot dimulai sejak abad 17 M, tepatnya sekitar tahun 1686. Sejak tradisi ngarot secara rutin dilaksanakan, perekonomian masyarakat mulai membaik. Tradisi ngarot pantang dilanggar, maka masyarakat sekitar bahwa akan ada marabahaya menimpa masyarakat, seperti dalam bentuk pengairan yang sulit yang kemudian mengakibatkan gagal panen.

Persyaratan khusus yang diadakan sebelum ritual ngarot antara lain: pertama, peserta tradisi atau ritual ngarot harus terdiri dari pemuda-pemudi yang masih perjaka dan perawan. Jika tidak perawan, maka hiasan yang nantinya dikenakannya akan cepat layu dan pucat. Kedua, mempersiapkan segala persyaratan selama acara, seperti benih, kendi berisi air putih, cangkul, pupuk, ruas bambu kuning. Ketiga, mempersiapkan pengiring pesta ngarot seperti tanjidor, genjring, gong, gamelan, dan seni tari ronggeng ketuk.

Dalam pelaksanaannya, pemuda-pemudi harus berkumpul di kediaman kepala desa, kemudian berdandan dan tampil menarik melakukan pawai dan keliling hingga perbatasan desa. Mereka jalan diiringi alunan musik tanjidor dan genjring. Kemudian ada persembahan khusus, yaitu tari Jipang.

Baca juga:

 

Setelah memasuki aula Balai Desa, mereka dihibur dengan seni tradisional tari ronggeng ketuk yang dimaksudkan untuk menggoda agar para gadis dan jejaka saling berpandang-pandangan. Setelah selesai, baru mulai prosesi ritual ngarot dengan intinya sebagai waktu yang tepat untuk menyerahkan peralatan pertanian meliputi benih untuk ditanam sehingga akan mendapatkan hasil panen yang melimpah, kendi berisi air putih untuk penyubur tanaman padi, pupuk untuk menyuburkan panen, cangkul untuk mengolah sawah dengan sempurna, dan ruas bambu kuning serta daun andong dan kelaras daun pisang untuk menghindarkan padi dari serangan hama.

Tradisi ngarot memiliki tujuan untuk membina pergaulan yang sehat agar para pemuda-pemudi dapat saling mengenal dan bersatu untuk kemudian bisa mengolah dan menanam padi bersama-sama.