5 Macam Senjata Tradisional Rencong Dari Aceh

daftarbudayaindo – Rencong atau Rincong atau Rintjoeng adalah senjata pusaka bagi rakyat Aceh dan merupakan simbol keberanian, keperkasaan, pertahanan diri dan kepahlawanan Aceh dari abad ke abad. Menurut salah satu sumber Rencong telah dikenal pada awal Islam Kesultanan di abad ke 13.

Dijaman Kerajaan Aceh Darussalam rencong ini tidak pernah lepas dari hampir setiap pinggang (selalu diselipkan dipinggang depan) rakyat Aceh yang rata – rata punya keberanian luar biasa baik pria maupun wanita karena rencong ini bagi orang Aceh ibarat tentara dengan bedilnya yang merupakan simbol keberanian, kebesaran, ketinggian martabat dan keperkasaan orang Aceh sehingga orang-orang portugis atau portugal harus berpikir panjang untuk mendekati orang Aceh.di masa ini Rencong mempunyai tingkatan yang menjadi ciri khas strata nasyarakat, untuk seorang Raj/Sulthan dan Ratu/Sulthanah untuk sarungnya terbuat dari gading dan untuk belatinya terbuat dari emas hingga sampai ke strata masyarakat bawah untuk sarung terbuat dari dari tanduk kerbau ataupun kayu dan untuk belati terbuat dari kuningan atau besi putih tergantung kemampuan ekonomi masing-masing.

Aceh sebagai sebuah kekuatan militer penting di dunia Melayu, dengan persenjataan yang sangat penting. Karena hubungan internasional dengan dunia barat, bentuk rencong juga mulai mengikuti perkembangannya, terutama Turki dan anak benua India.
Rencong juga mempunyai kesamaan dengan blade yang dipakai oleh prajurit Turki di masa Sulthan Mahmud kerajaan Ottoman Turki dan juga Mughal scimitar dari beberapa orang dengan gaya rapiers dan daggers (bahasa bule) yang bergantung gantung dari ikat pinggangdi tembok gantung Madras, India tahun 1610 – 1620.

Rencong merupakan senjata tradisional yang digunakan Kesultanan Aceh sejak masa Pemerintahan Sultan Ali Mughayat Syah yang merupakan Sultan Aceh yang pertama menurut catatan sejarah. Kedudukan Rencong di Kesultanan Aceh sangatlah penting,

Rencong selalu diselipkan di pinggang Sultan Aceh, selain itu para Ulee Balang dan masyarakat biasa juga menggunakan Rencong.

Rencong emas milik Sultan Aceh dapat kita jumpai di Museum Sejarah Aceh, dari bukti sejarah tersebut dapat disimpulkan bahwa Rencong memang sudah terlahir sejak masa Kesultanan Aceh, namun pembuat pertamanya sampai saat ini belum diketahui.

Rencong adalah simbol keberanian dan kegagahan ureueng Aceh. Bagi siapa saja yang memegang Rencong, akan merasa lebih berani menghadapi musuh. Pada masa sekarang, senjata ini memang sudah tidak relevan untuk digunakan sebagai senjata penyerang.

Namun untuk saat ini, Rencong masih relevan sebagai sebuah simbolis dari keberanian, ketagguhan dan kejantanan dari Masyarakat Aceh. Untuk itu, pada beberapa acara seperti; upacara pernikahan, rencong dipakai. Pemakaian benda ini lebih mengarah kepada simbolisasi dari keberanian seorang laki – laki dalam memimpin keluarga setelah menikah.

Sumber Belanda Yang merujuk pada persenjataan Aceh di abad ke 14. Contoh persenjataan ini dapat dilihat dalam ilustrasi buku baik pada perang kolonial Belanda yang dihasilkan oleh Pusat Data Dokumentasi dan di Aceh pada tahun 1977.

Sebuah majalah artikel populer yang menyatakan bahwa bentuk rencong itu invented di Aceh pada abad 16 pada jaman Sultan AI Kahar, Sultan yang mempunyai hubungan dekat dengan Khalifah Turki Ottoman, disaat meminta bantuan untuk menyerang Portugis.

Menurut salah satu sumber juga, Pada abad ke 18 Tokoh pahlawan sastra Pocut Muhammad untuk memerintahkan membuat rencong sebanyak – banyak karena persediaan baja yang menumpuk, rencong ini dapat dilihat di Museum Praha, Ceko. Rencong yang paling berharga dari abad ke 19 dengan ukiran huruf Arab ada di museum Jakarta.

Di masa lalu, simbolisme Islam dari rencong telah dihubungkan dengan Perang Suci atau jihad. dengan kekuatan senjata ditangan dan keyakinan pada kuasa Allah. Rencong seperti memiliki kekuatan yang ghaib. sehingga si masyarakat Aceh sangat terkenal pepatah :
Di masa Aceh mengusir Portugis dari seluruh tanah sumatra dan tanah malaka serta masa penjajahan Belanda rencong merupakan senjata yang mematikan disamping pedang dan bedil yang digunakan di medan perang, tidak hanya oleh para Sulthan, Laksamana, Pang, Pang sagoe, Uleebalang, Teuku, Teungku Agam, Sayed, Habib Cut Ampon, Cut Abang (para kaum pria) namun juga oleh Teungku Inong, Syarifah, Cut Kak, Cut Adoe, Cut Putroe, Cut Nyak (kaum wanita). Senjata ini diselipkan di pinggang depan setiap pria dan wanita perkasa Aceh sebagai penanda Keperkasaan dan ketinggian martabat, sekaligus simbol pertahanan diri, keberanian, kebesaran, dan kepahlawanan ketika melawan penjajah Belanda.

Rencong dalam bahasa Aceh disebut reuncong, adalah sejenis senjata tajam tradisional masyarakat Aceh. Karena kekhasannya, selain dijuluki “Serambi Mekkah”, Daerah Istimewa Aceh dikenal juga sebagai “Tanah Rencong”. Bagi masyarakat Aceh, rencong dianggap sebagai benda pusaka yang dipergunakan oleh seluruh masyarakat Aceh, terutama kaum pria. Bahkan pada masa kerajaan Aceh, anak laki – laki yang beranjak dewasa dianjurkan untuk memiliki rencong untuk menjaga diri.

Selain alat pertahanan diri, rencong merupakan lambang kebesaran bangsawan Aceh serta lambang keberanian para pejuang Aceh dalam melawan kolonial. Sebagai simbol keberanian dan kepahlawanan rakyat Aceh, kita bisa melihat keberadaan rencong pada foto atau lukisan pahlawan yang berasal dari Aceh. Senjata ini diselipkan pada pinggang sebagai penanda egalitarianisme dan ketinggian martabat.

Baca Juga :Beberapa Pakaian Adat Banten

Rencong telah dikenal oleh masyarakat Aceh sejak berdirinya Kerajaan Islam yang bernama Pasee, kira – kira pada abad ke 13. Dengan segala perkembangan dan evolusi bentuknya hingga mencapai kesempurnaan seperti yang kita lihat sekarang ini, sangat berhubungan erat dengan kepercayaan Islam.

Menurut T. Syamsudin, dkk (1981), secara fungsi dan kegunaan, awalnya rencong adalah alat potong atau perkakas rumah. Tentu saja pada mulanya berbentuk kasar, lama kelamaan berbentuk licin dan halus

Hal ini merupakan tugas dari pandai – pandai besi yang di Aceh dikenal dengan nama Pandee Beusou. Kemudian ketika perang melawan Portugis, pada masa kerajaan Sultan Ali Muqhayat Syah (1514 – 1528), saat itulah rencong pertama kali dipakai sebagai senjata.

Secara filosofis, rencong berorientasi pada kepercayaan Islam sebagai agama yang amat berpengaruh dalam penghidupan sosial budaya masyarakat Aceh.

Jika kita lihat dari segi bentuknya gagang rencong yang melekuk kemudian menebal pada bahagian sikunya sehingga menyerupai aksara Arab BA.

Bentuk dari bujuran gagang tempat genggaman merupakan aksara SIN. Bentuk – bentuk lancip yang menurun kebawah pada pangkal besi dekat gagangnya menyerupai aksara MIM. Lajur – lajur besi dari pangkal gagang hingga’ dekat ujungnya merupakan aksara LAM.

Ujung – ujung yang runcing dengan datar sebelah atas mendatar dan bahagian bawah yang sedikit melekuk keatas merupakan aksara HA. Maka rangkaian dari aksara BA, MIM, LAM, dan HA itu mewujudkan kalimah “BISMILLAH“.

Jadi jelas bahwa rencong merupakan reaksi dan perwujudan dari kalimah “BISMILLAH” dalam bentuk senjata tajam sebagai alat perang untuk mempertahankan agama Islam dari rongrongan orang – orang yang anti Islam atau penjajah.

Pada perkembangannya, rencong hari ini selain berfungsi sebagai benda pusaka yang bernilai bagi masyarakat Aceh, kita kenal pula sebagai benda souvenir.

Ada rencong yang gagangnya dibuat dari tanduk, gading atau gagang yang dibalut dengan suasa atau emas. Jenis – jenis rencong yang dikenal dalam masyarakat Aceh yaitu Rencong Meupucok, Rencong Meucugek, Rencong Pudoi dan Rencong Meukuree.

Masing – masing jenis tersebut memiliki keunikan dan kekhasan tersendiri. Maka tak heran jika rencong bagi masyarakat Aceh, bukanlah sekadar senjata melainkan sebuah simbol dari keimanan dan harga diri yang dibuat dengan cita rasa seni yang sangat tinggi.

Museum Negeri Aceh. 1982. Petunjuk singkat Museum Negeri Aceh Volume 8 of Seri Penerbitan Museum Negeri Aceh. Proyek Rehabilitasi dan Perluasan Museum Daerah Istimewa Aceh.

Dalam perjuangan dan pertempuran melawan Portugis dan Belanda, sejarah mencatat nama-nama besar pahlawan-pahlawan dan srikandi Aceh, seperti Tgk Umar, Panglima Polem, Teungku Chik Ditiro, Laksamana Malahayati, Pocut Meurah Intan, Pocut Baren, Cut Nyak Dhien, Cut Meutia, dan Teungku Fakinah yang tidak melepaskan rencong dari pinggangnya.

Rencong memiliki makna filosofi religius dan keislaman, Gagangnya yang berbetuk huruf Arab diambil dari padanan kata Bismillah. Padanan kata itu bisa dilihat pada gagang yang melekuk kemudian menebal pada bagian sikunya. Gagang rencong berbentuk huruf BA, gagang tempat genggaman merupakan aksara SIN, lancip yang menurun ke bawah pada pangkal besi dekat gagangnya merupakan aksara MIM, Pangkal besi lancip di dekat gagang yang erupai lajur – lajur besi dari pangkal gagang hingga dekat ujungnya melambangkan aksara LAM.

Bagian bawah sarung memiliki bentuk huruf HA, sehingga keseluruhan hurup “BA, SIN, MIM, LAM, HA”, susunan huruf yang terbaca membentuk kalimat Bismillah.

Ini merupakan lambang yang memperlihatkan karakteristik masyarakat Aceh yang sangat berpegang teguh pada kemuliaan ajaran Islam.

Secara umum rencong atau Rincong yang menjadi senjata andalan dalam sejarah masyarakat Aceh dikenal, ada 5 macam yaitu :

Rincong Meucugek :

Rincong-Meucugek
Mengapa disebut Rincong Meucugek karena pada gagang rencong tersebut terdapat suatu cugek atau meucugek (dalam istilah Aceh) seperti bentuk panahan dan perekat.

Rincong Pudoi :

Rincong-Pudoi
Dalam masyarakat Aceh istilah Pudoi berarti belum sempurna alias masih ada kekurangan. kekurangannya dapat dilihat pada bentuk gagang rencong tersebut.

Baca Juga : Beberapa Pakaian Adat Banten

Rincong Meupucok :

Rincong-Meupucok
Keunikan dari Rincong ini memiliki pucuk di atas gagangnya yang terbuat dari ukiran dari gading atau emas. Bagian pangkal gagang dihiasi emas bermotif pucok rebung/tumpal yang diberi permata ditampuk gagang, keseluruhan panjang rencong ini lebih kurang 30 cm. bilah terbuat dari besi putih, sarungnya dibuat dari gading serta diberi ikatan dengan emas.

Rincong Hulu Puntong :

Rincong-Hulu-Puntong
Keunikan dari Rincong Puntong pada Hulu Puntung, dengan belati yang ditempa dengan loga, kepala Rencong dari tanduk kerbau dan sarung dari kayu.

Rincong Meukure:

Rincong-Meukure
Rincong ini mempunyai perbedaa dengan yang lain pada mata Rincong yang diberi hiasan tertentu seperti gambar bunga, ular, lipan dan sejenisnya.

seiring perjalanan waktu senjata Rencong semenjak Aceh bergabung dengan Indonesia sampai sekarang perlahan – perlahan pusaka ini berubah fungsi hanya menjadi barang suvernir atau cenderamata dan pelengkap pakaian adat Aceh pengantin pria.

Semoga Pemerintah Daerah dapat menyelamatkan dan melestarikan asset sejarah Aceh dari abad ke abad yang sangat berharga ini, kalau pusaka ini tidak berharga, Aceh tidak akan digelar dengan ACEH TANOH RINCONG.

Related posts