Lestarikan Budaya Bahasa Jawa

Lestarikan Budaya Bahasa Jawa

daftarbudayaindo.web.id Salah satu bagian dari budaya yang tidak bisa lepas dari satu suku yang ada di Indonesia adalah kebudayaan bahasa daerah. Berikut ini pembahasan mengenai melestarikan budaya bahasa Jawa.

Kebudayaan Jawa disimbolisasikan dengan dua kerajaan besar, yang mempengaruhi sendi-sendi kehidupan kultural masyarakatnya. Kerajaan besar itu adalah kraton Kasunanan Surakarta dan Kasultanan Jogjakarta. Kerajaan ini telah menciptakan berbagai macam kebudayaan yang sangat melekat di masyarakatnya bahkan sampai penjuru dunia. Seperti adat grebeg sura yang cukup menyedot masyarakat jawa pada khususnya dan bahkan turis manca negara.

Selain dua kerajaan besar tersebut, budaya jawa kental dengan pertunjukkan wayang kulit. Kebudayaan ini telah mengalami akulturasi sejak Sunan Kalijaga menyebarkan agama Islam di tanah Jawa. Kebudayaan Jawa juga lekat dengan adat pengantin dengan berbagai proses tradisi. Di mana adat pengatin ini merupakan salah satu kebudayaan yang mampu “dijual” kepada turis mancanegara.

Dari berbagai contoh adat di atas peran bahasa menjadi sangat penting dan memegang peran sangat vital, karena dengan bahasa, kebudayaan di komunikasikan ke masyarakat lokal maupun internasional. Bahasa dalam hal ini budaya bahasa Jawa yang mungkin bisa dibilang telah luntur dari kaum muda Jawa. Bahasa bagi kaum muda hanya sebagai bahasa ibu, padahal bahasa jawa mempunyai kekuatan tradisi yang luar biasa. Bahasa jawa adalah bahasa kebudayaan.

Bahasa jawa sebagai bahasa kebudayaan adalah bahasa sebagai bagian dari proses kehidupan sehari-hari maupun simbol dari berbagai prosesi tradisi yang berkembang. Lebih dari itu bahasa jawa merupakan bagian dari alat untuk menyebarkan berbagai wulangan (ajaran) dengan dibuktikan oleh berbagai kitab yang ditulis raja-raja jawa. Dengan demikian, bahasa jawa bukan semata-mata bahasa pergaulan akan tetapi bahasa jawa adalah bahasa kebuadayaan yang harus dilestarikan.

Ada sebuah istilah kalau ingin memahami betul peradaban arab maka belajarlah bahasa arab. Begitu juga dengan belajar budaya jawa maka anda paling tidak harus memahami bahasa jawa. Kalau kita paham bahasa jawa kita akan dengan mudah mencerna seorang dhalang melakonkan cerita wayang, atau kita memahami maksud dari berbagai ritual dalam tradisi pengantin jawa dan bahkan kita akan mudah belajar sulitnya gendhing jawa dengan berbagai aturan-aturannya yang membuat indahnya alunan nada.

Sekolah sebagai bagian dari institusi pendidikan perlu melakukan reformasi pembelajaran dan reformasi kurikulum berkaitan dengan pembelajaran bahasa jawa. Bahasa jawa merupakan materi muatan lokal hendaknya memiliki perhatian khusus ditingkat sekolah. Kecerdasan bahasa jawa yang dimiliki sekolah masih menjadi kecerdasan lokal anak belum menjadi kecerdasan institusional. Misalnya adanya lomba wayang kulit anak usia sekolah, atau lomba geguritan dan lomba pidato bahasa jawa masih sebatas pada anak tertentu.

Belum adanya guru khusus bahasa jawa ditingkat sekolah dasar merupakan bagian dari gagalnya pembelajaran bahasa jawa. Bahkan di tingkat SMA pelajaran bahasa lebih menitik beratkan pada bahasa asing dari pada bahasa jawa. Inilah yang menjadi titik lemah dari proses pembudayaan bahasa jawa, lebih parah dengan status pelajaran bahasa jawa yang hanya menjadi mata pelajaran muatan lokal.

Pelajaran muatan lokal tidak memiliki bergaining dibanding mata pelajaran lain seperti matematika atau sains. Bahkan alokasi waktu pelajaran bahasa jawa dikorbankan untuk mendukung pelajaran lainnya yang dianggap lebih penting. Bahkan banyak guru yang tidak mengerti bahasa jawa mengajar bahasa jawa, sehingga banyak materi yang tidak bisa dipahami, misal menulis aksara jawa. Selain permasalahan status pelajaran, kurikulum, dan guru, pelajaran bahasa jawa merupakan yang dianggap pelajaran sulit bagi kebanyakan siswa dibandingkan mata pelajaran lain. Media pembelajaran yang terbatas dan tidak menarik menjadi permasalahan terhambatnya pelajaran bahasa jawa.

Dari berbagai permasalahan yang muncul, bukan sekedar masalah perlu dan tidak perlu pelajaran ini dilestarikan, akan tetapi bahasa jawa sebagai bagian dari sebuah prose memenuhi kebutuhan bagi anak didik khususnya yang memiliki kecerdasan bahasa (jawa).

Related posts